Teras, Gowa – Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kesempatan untuk kembali menelusuri jejak perjuangan para tokoh lokal di Kabupaten Gowa. Salah satu kisah yang kembali teringat adalah Sang pejuang Andi Baso Erang, yang disebut sebagai tokoh pemberani mengibarkan Bendera Merah Putih di Balla Lompoa, Sungguminasa, Tanah Gowa.
Kisah tersebut diceritakan oleh Andi Gaza, salah satu keturunan pejuang Gowa. Ia menyebut perjuangan mempertahankan semangat kemerdekaan di Gowa tidak dapat dilepaskan dari peran para bangsawan dan tokoh masyarakat yang pernah mengambil bagian dalam perjuangan pada masa dahulu kala.
Andi Gaza sendiri merupakan keturunan dari sejumlah tokoh yang memiliki rekam jejak dalam perjuangan patriotisme di Gowa, di antaranya Syamsudin Dg Ngerang dan Abdul Muthalib Dg Narang dan Andi Baso Erang.
Dimana nama Abdul Muthalib Dg Narang kini diabadikan sebagai nama jalan yang diberi nama Jalan Abdul Muthalib.
Menurut Andi Gaza, semangat perjuangan para tokoh Gowa merupakan bagian dari kesinambungan sejarah perjuangan masyarakat Gowa sejak masa Kerajaan Gowa hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Jadi, penerus perjuangan Sultan Hasanuddin adalah para pejuang dan para Karaeng yang kemudian berjuang untuk kemerdekaan Indonesia pada 1945,” ujar Andi Gaza.
Ia menilai kisah para pejuang lokal tersebut penting untuk terus disampaikan kepada generasi muda. Sebab, perjuangan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di pusat-pusat kekuasaan nasional, tetapi juga melibatkan tokoh-tokoh daerah yang mempertaruhkan keberanian dan keselamatan mereka.
Andi Baso Erang dan Pengibaran Merah Putih
Salah satu kisah yang diceritakan oleh Andi Achmad Yusuf Dg. Nompo yang masih saudara sepupu dengan Andi Gaza yang sama-sama merupakan keturunan dari para pejuang terdahulu adalah peran Andi Baso Erang dalam pengibaran Bendera Merah Putih di Tanah Gowa.
Andi Achmad Yusuf Dg. Nompo, menuturkan bahwa Andi Baso Erang disebut tokoh pemberani yang mengibarkan Bendera Merah Putih di Tanah Gowa.
“Salah Satu Yang mengibarkan Bendera Merah Putih di Tanah Gowa adalah Andi Baso Erang,” ungkap Andi Achmad Yusuf Dg. Nompo.
Menurutnya, jejak pengibaran Bendera Merah Putih juga dilakukan sejumlah tokoh perjuangan lainnya di wilayah yang berbeda.
Andi Achmad Yusuf Dg. Nompo mengatakan kisah tersebut memperlihatkan bahwa semangat kemerdekaan telah tumbuh kuat di tengah masyarakat Gowa. Para tokoh lokal tidak hanya memiliki kedudukan dalam struktur sosial Kerajaan Gowa, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam perjuangan kebangsaan.
Ia menyebut Andi Muthalib Dg. Ngerang dan Andi Baso Erang merupakan bagian dari bangsawan Kerajaan Gowa. Keduanya disebut sebagai cucu langsung dari Raja Gowa ke-33 adalah I Mallingkai Daeng Manyonri Karaeng Katangka yang bergelar Sultan Abdullah Awallul Islam (atau dikenal juga sebagai Sultan Idris dalam beberapa catatan sejarah lokal). Ia juga pernah menjabat sebagai Raja Tallo ke-6.
Rumah Pejuang Kini Kosong dan Tak Terurus
Di balik kisah perjuangan Andi Baso Erang, rumah yang dulunya ditempati kini kondisi rumahnya Tak terurus lagi.
Andi Achmad Yusuf Dg. Nompo menjelaskan, rumah tersebut berada di Jalan Harapan. Menurutnya, rumah yang memiliki nilai sejarah tersebut kini dalam kondisi kosong dan tidak terurus.
“Rumahnya sekarang kosong, tidak terurus, Pak,” kata Andi Achmad Yusuf Dg. Nompo.
Ia menyayangkan kondisi tersebut karena rumah itu dinilai memiliki nilai historis yang penting dalam perjalanan perjuangan masyarakat Gowa.
Menurutnya, rumah tersebut seharusnya mendapatkan perhatian pemerintah, terlebih terdapat dokumentasi sejarah mengenai Andi Baso Erang yang disebut masih dapat ditelusuri.
Ia bahkan menyebut terdapat foto Andi Baso Erang yang menjadi bagian dari dokumentasi sejarah dan berada di Belanda.
“Sementara Belanda ini sangat menghargai di zamannya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan tersendiri bagi keluarga. Mereka berharap perhatian terhadap peninggalan sejarah tidak hanya datang dari pihak keluarga, tetapi juga datang dari pemerintah daerah.
Andi Achmad Yusuf Dg. Nompo mendorong Pemerintah Kabupaten Gowa untuk melakukan pendataan, penelitian dan kajian terhadap rumah tersebut. Jika memenuhi ketentuan, rumah peninggalan Andi Baso Erang diharapkan dapat ditetapkan sebagai cagar budaya atau setidaknya dirawat sebagai situs sejarah perjuangan masyarakat Gowa.
“Seharusnya pemerintah Kabupaten Gowa menjadikan rumah ini sebagai cagar budaya atau dipelihara oleh pemerintah Kabupaten Gowa untuk mengenang sejarah perjuangan para pejuang masyarakat Gowa pada saat itu,” katanya.
Jangan Biarkan Sejarah Hilang
Bagi Andi Gaza, kisah perjuangan para leluhur dan tokoh Gowa bukan sekadar cerita keluarga. Jejak tersebut merupakan bagian dari identitas sejarah masyarakat Gowa yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menilai, mengenang para pejuang bukan berarti hanya melihat masa lalu. Sejarah justru harus menjadi pijakan bagi generasi sekarang untuk memahami arti kemerdekaan dan tanggung jawab dalam mengisi kemerdekaan.
“Kalau kita mengetahui sejarah perjuangan para pendahulu, kita akan lebih menghargai kemerdekaan dan memahami bahwa menjaga Indonesia juga merupakan bagian dari perjuangan,” kata Andi Gaza.
Menurutnya, perjuangan generasi saat ini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata. Semangat yang sama dapat diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat, menjaga persatuan, melestarikan sejarah dan membangun daerah.
“Semangat perjuangan mereka harus menjadi inspirasi bagi generasi sekarang. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini lahir dari pengorbanan para pendahulu,” ujarnya.
Ia berharap generasi muda Gowa tidak kehilangan hubungan dengan sejarah daerahnya. Nama-nama pejuang, lokasi perjuangan, rumah peninggalan serta berbagai dokumentasi sejarah harus dirawat agar tidak hilang ditelan zaman.
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI pun menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya memiliki cerita di tingkat nasional. Di tanah Gowa, para tokoh lokal juga meninggalkan jejak perjuangan yang patut dikenang.
Kisah Andi Baso Erang yang disebut sebagai tokoh pertama mengibarkan Bendera Merah Putih di Tanah Gowa menjadi salah satu bagian dari sejarah tersebut. Kini, tantangannya bukan lagi mengibarkan bendera di tengah ancaman penjajahan, tetapi memastikan jejak perjuangan mereka tetap berdiri dan dikenal oleh generasi penerus.
Sebab, ketika sebuah rumah sejarah dibiarkan kosong dan tidak terurus, yang terancam hilang bukan hanya bangunannya, tetapi juga cerita tentang keberanian orang-orang yang pernah menjadikan tempat itu bagian dari perjalanan perjuangan bangsa.
Wartawan: Andi Ghaza, Editor: Tahar













