Example floating
Example floating
Opini

Terbitnya Dua Matahari; Metafora Body Politic

×

Terbitnya Dua Matahari; Metafora Body Politic

Sebarkan artikel ini

Teras, Gowa– Ketika ambisi kekuasaan memaksakan cahaya tiruan, merusak tatanan, dan mengorbankan masyarakat.

Oleh Danial Malik

Dunia sempat terpana ketika China sukses menguji coba reaktor fusi nuklir EAST (Experimental Advanced Superconducting Tokamak), sebuah proyek ambisius yang dijuluki sebagai “matahari buatan”. Di dalam ruang hampa udara bermagnet raksasa itu, para ilmuwan berhasil menciptakan suhu panas yang berkali-kali lipat melampaui inti matahari yang sesungguhnya.

Namun, sehebat apa pun teknologi itu, ia tetaplah sebuah replika. Ia bersinar karena rekayasa eksternal dan pasokan energi yang dipaksakan. Di atas langit kekuasaan saat ini, fenomena “terbitnya dua matahari” ini sedang terjadi, melahirkan radiasi politik yang membakar sendi-sendi pelayanan publik.

Bayangkan jika setiap hari kita terbangun dan melihat ada dua matahari di langit. Matahari yang pertama adalah matahari alami, membawa kehangatan yang pasti. Sementara matahari yang kedua adalah matahari rekayasa. Secara sains, itu adalah kehebatan luar biasa. Namun, di panggung politik, dualisme ini adalah alarm bahaya.

Ketika ada struktur bayangan atau figur sekunder yang mencoba menyaingi pemegang otoritas sah, lahirlah friksi tajam. Akibatnya, jalannya roda pemerintahan menjadi limbung dan tidak pasti.

Pakar psikologi politik dunia, Dr. Jerrold Post, menjelaskan perilaku ini dengan istilah narcissistic grandiosity atau delusi kemegahan. Sederhananya, ini adalah kondisi psikopolitik di mana seseorang atau sekelompok penguasa merasa dirinya begitu hebat, sehingga merasa berhak mengubah aturan main, memanipulasi keadaan, dan menciptakan “matahari baru” sesuka hati.

Mereka lupa, bahwa seindah-indahnya matahari buatan, ia butuh energi ego yang sangat besar untuk menyala. Sewaktu-waktu, ia bisa meledak dan merusak tatanan di sekelilingnya.

Dalam memahami kerusakan sistemik akibat ambisi ini, mari kita bedah metafora klasik filsafat politik, konsepsi Body Politic (Tubuh Politik) yang pernah diulas oleh filsuf Plato hingga Thomas Hobbes. Metafora ini memetakan secara presisi hubungan organis antara “Kepala” dan “Leher” dalam struktur kekuasaan.

Dalam kehidupan bernegara, kepala bertugas untuk berpikir, mengambil keputusan rasional, dan menentukan arah legalitas ke mana tubuh akan melangkah. Plato dalam Timaeus menyebut kepala sebagai tempatnya akal budi dan kebijaksanaan. Sementara itu, leher bertugas sebagai penyangga sekaligus jembatan strategis.

Fungsi leher sangat vital: memberikan keseimbangan dan membantu kepala menengok secara fleksibel demi melihat realitas rakyat. Namun, sejarah politik mengingatkan bahwa leher juga merupakan “isthmus” atau penyaringโ€”ia menyalurkan energi dari bawah namun harus tetap tunduk pada keputusan rasional sang kepala.

Kekacauan politik atau “radiasi matahari kembar” terjadi justru ketika leher menolak fungsinya sebagai penopang dan ngotot ingin mengontrol kepala. Ketika lingkaran dalam, wakil, atau sistem penunjang memaksakan diri mengambil alih fungsi otak dan otoritas sah, tubuh birokrasi tidak akan bisa berjalan dengan benar.

Iklan

Yang terjadi hanyalah ketegangan saraf, salah paham, dan kelumpuhan pelayanan. Leher yang memaksa mendikte kepala tidak akan pernah bisa melahirkan kebijakan yang jernih; ia hanya melelahkan diri sendiri, menciptakan matahari tiruan, dan merusak tatanan hukum yang sudah baku.

Dampak nyata dari pemberontakan “leher” ini paling pertama dan parah dirasakan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN). Di bawah bayang-bayang dua matahari, birokrasi berubah menjadi medan laga yang mencekam. Para ASN, yang seharusnya bekerja profesional sebagai pelayan masyarakat, dipaksa terjepit di antara pusaran konflik dua kekuatan ego.

Mereka dihadapkan pada buah simalakama politik: patuh pada ‘kepala’ yang sah secara konstitusi, atau tunduk pada intervensi ‘leher’ yang memegang kendali riil di lapangan. Ketakutan akan mutasi sewenang-wenang, demosi, hingga sanksi politik membuat aparatur daerah memilih jalan aman: bersikap pasif dan enggan berinovasi.

Ketika mesin birokrasi lumpuh oleh ketakutan, maka korban berikutnya adalah pembangunan wilayah. Agenda-agenda strategis daerah yang menyangkut hajat hidup orang banyak menjadi terbengkalai. Pembahasan anggaran sering kali berjalan alot bukan karena memperdebatkan kesejahteraan rakyat, melainkan karena menjadi ajang pembuktian siapa yang lebih dominan antara kepala dan leher.

Proyek infrastruktur tersendat, pelayanan kesehatan dan pendidikan melambat, dan serapan anggaran menjadi tidak optimal. Daerah yang seharusnya melesat maju justru mengalami jalan di tempat, karena energi pemerintahannya habis terbakar untuk memadamkan konflik internal yang tak kunjung usai.

Mari jeli melihat situasi ini. Jangan mudah silau oleh “cahaya instan” yang ditawarkan oleh matahari buatan atau leher yang bergejolak demi memuaskan delusi kemegahannya. Di balik kilauannya, ada radiasi konflik yang perlahan menghancurkan masa depan wilayah kita. Tatanan yang damai hanya akan tercipta jika yang menjadi leher tetap bangga dengan marwahnyaโ€”menjadi penopang yang kuat, jujur, setia pada kebaikan, dan mengarahkan kepala secara proporsional, bukan malah buta membakar keadaan.

Akhirnya, sebelum semuanya terlambat dan daerah ini hangus terbakar ego kekuasaan, sudah saatnya kita mengakhiri konflik dualisme ini. Ada hal yang jauh lebih mendesak untuk diselamatkan daripada sekadar memenangkan gengsi politik: yaitu memulihkan mentalitas ASN yang telanjur retak dan mengembalikan arah pembangunan wilayah yang sempat tersesat.

Sudah saatnya semua pihak kembali ke kodrat, fungsi, dan etika posisinya masing-masing. Sebab, sekuat apa pun matahari buatan dipaksakan bersinar, cahayanya akan redup tertelan waktu. Pada akhir cerita, harmoni publik hanya akan pulih ketika sang kepala kembali memimpin dengan bijak, dan sang leher kembali setia menopang tanpa harus memaksakan diri.

Adakah kejadian seperti ini di daerah kita masing-masing โ€œterbit matahari buatanโ€, bagaimana uraian Plato; kepala sebagai tempatnya akal budi dan kebijaksanaan, dapat mengurai persoalan yang timbul dan mengambil langkah bijak tanpa ada pihak yang menjadi korban matahari buatan?

Wartawan: Musa, Editor: Tahar